KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rosulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu
menyelesaikan tugas ini. Dalam penyusunan tugas atau materi ini tidak sedikit
hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam
penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang
tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para pelajar. Saya sadar bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu saya
meminta masukannya demi perbaikan makalah saya dimasa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Kragilan, 13
September 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mataram Kuno atau Mataram (Hindu)
merupakan sebutan untuk dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti
Syailendra, yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan. Dinasti Sanjaya yang
bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun 732. Beberapa saat kemudian,
Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana didirikan oleh Bhanu pada
tahun 752. Kedua dinasti ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram
sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.
Pada umumnya para sejarawan menyebut ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di
Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra pada periode Jawa
Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur.
Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada
nama raja pertama Medang, yaitu Sanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu
aliran Siwa. Menurut teori van Naerssen, pada masa pemerintahan Rakai
Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan atas Medang
direbut oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana. Mulai saat itu
Wangsa Sailendra berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil pula menguasai
Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya, sekitar tahun 840-an,
seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan berhasil menikahi
Pramodawardhani putri mahkota Wangsa Sailendra.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Kuno ?
2. Bagaimana
proses berkembangnya Kerajaan Mataram Kuno ?
3. Bagaimana
kehidupan rakyat Kerajaan Mataram Kuno pada saat itu ?
4. Apa
penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno ?
5. Apa
saja peninggalan - peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui
lebih dalam tentang Kerajaan Mataram Kuno.
2. Mengetahui bagaimana sejarah dan proses
berkembangnya Kerajaan Mataram Kuno.
3. Mengetahui bagaiamana kehidupan dan
penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno.
4. Mengetahui peninggalan –
peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah
Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan
berada di wilayah aliran sungai-sungai Bogowonto, Progo, Elo, dan Bengawan Solo
di Jawa Tengah. Keberadaan kerajaan ini dapat diketahui dari Prasasti Canggal.
Prasasti berangka tahun 732 Masehi ini menyebutkan bahwa kerajaan itu pada
awalnya dipimpin oleh Sana. Setelah kematiannya, tampuk kekuasaan dipegang oleh
keponakannya, Sanjaya. Pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panangkaran
berdiri pula sebuah dinasti baru di Jawa Tengah, yaitu Dinasti Syailendra yang
beragama Budha. Perkembangan kekuasaan dinasti tersebut di bagian selatan Jawa
Tengah menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu hingga ke bagian
tengah Jawa Tengah. Akhirnya, untuk memperkuat kedudukan masing-masing, kedua
dinasti itu sepakat bergabung. Caranya adalah melalui pernikahan antara Raja
Putri Pramodharwani dari pihak Syailendra dengan Rakai Pikatan dari dinasti
saingannya.
Kerajaan Mataram Kuno terkenal
keunggulannya dalam pembangunan candi agama Budha dan Hindu. Candi yang
diperuntukan bagi agama Budha antara lain Candi Borobudur, yang dibangun oleh
Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Candi Hindu yang dibangun antara lain
Candi RoroJongrang di Prambanan, yang dibangun oleh Raja Pikatan. Pada zaman
pemerintahan Raja Rakai Wawa terjadi banyak kekacauan di daerah-daerah yang
berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno sementara ancaman dari luar
mengintainya. Keadaan menjadi semakin buruk setelah kematian sang raja akibat
perebutan kekuasaan di kalangan istana. Akhirnya, pengganti Raja Wawa yang
bernama Mpu Sindok mengambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahannya
dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di sana ia membangun sebuah dinasti baru yang
bernama Isyana.
Kerajaan mataram kuno dipimpin
pertama kali oleh Raja Sanjaya yang terkenal sebagai seorang raja yang besar.
Ia adalah penganut Hindu Syiwa yang taat. Setelah Rakai Mataram Sang Ratu
Sanjaya meninggal dunia, beliau kemudian digantikan oleh putranya yang bernama
Sankhara yang bergelar Rakai Panangkaran Dyah Sonkhara Sri Sanggramadhanjaya.
Raja Panangkaran lebih progresif dan bijaksana daripada Sanjaya sehingga
Mataram Kuno lebih cepat berkembang. Daerah-daerah sekitar Mataram Kuno segera
ditaklukkan, seperti kerajaan Galuh di Jawa Barat dan Kerajaan Melayu di
Semenanjung Malaya.Ketika Rakai Panunggalan berkuasa, kerajaan Mataram Kuno
mulai mengadakan pembangunan beberapa candi megah seperti candi Kalasan, candi
Sewu, candi Sari, candi Pawon, candi Mendut, dan Candi Borobudur.
Kemudian setelah Rakai Panunggalan
meninggal, beliau digantikan oleh Rakai Warak. Pada zaman pemerintahan Rakai
Warak, ia lebih mengutamakan agama Buddha dan Hindu sehingga pada saat itu
banyak masyarakat yang mengenal agama tersebut. Setelah Rakai Warak meninggal
kemudian digantikan oleh Rakai Garung.
Setelah Rakai Garung meninggal ia
digantikan oleh Rakai Pikatan. Berkat kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan,
semangat kebudayaan Hindu dapat dihidupkan kembali. Kekuasaannya pun bertambah
luas meliputi seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur serta ia pun memulai
pembangunan candi Hindu yang lebih besar dan indah yaitu candi Prambanan (Candi
Lara Jonggrang) di desa Prambanan. Setelah Raja Pikatan wafat ia digantikan
oleh Rakai Kayuwangi. Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Kerajaan banyak
menghadapi masalah dan berbagai persoalan yang rumit sehingga timbullah benih
perpecahan di antara keluarga kerajaan. Selain itu zaman keemasan Mataram Kuno
mulai memudar serta banyak terjadi perang saudara.
2.2. Proses
Berkembangnya Kerajaan Mataram Kuno
Perkembangan
Kerajaan Mataram Kuno dibagi menjadi 2 :
a. Dinasti Sanjaya
Istilah Wangsa Sanjaya
diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya yang berjudul
Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa,
di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya
dan Sailendra. Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan
Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah sekitar tahun 732. Berdasarkan Prasasti
Canggal (732 M) diketahui Sanjaya adalah penerus raja Jawa Sanna, menganut
agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjarakunja di daerah India, dan
mendirikan Shivalingga baru yang menunjukkan membangun pusat pemerintahan baru.
Menurut penafsiran atas naskah
Carita Parahyangan yang disusun dari zaman kemudian, Sanjaya digambarkan
sebagai pangeran dari Galuh yang akhirnya berkuasa di Mataram. Ibu dari Sanjaya
adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga di Jepara. Ayah dari
Sanjaya adalah Sena/Sanna/Bratasenawa, raja Galuh ketiga. Sena adalah putra
Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Dikemudian hari, Sanjaya yang
merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan
Tarusbawa, raja Sunda. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.
Saat Tarusbawa meninggal pada tahun 723, kekuasaan Sunda dan Galuh berada di
tangan Sanjaya. Di tangannya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732,
Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada putranya Rarkyan Panaraban
(Tamperan). Di Kalingga, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754),
yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai
Panangkaran. Secara garis besar kisah dari Carita Parahyangan ini sesuai dengan
prasasti Canggal. Rakai Panangkaran dikalahkan oleh dinasti pendatang dari
Sumatra yang bernama Wangsa Sailendra. Berdasarkan penafsiran atas Prasasti
Kalasan (778 M), pada tahun 778 raja Sailendra yang beragama Buddha aliran
Mahayana memerintah Rakai Panangkaran untuk mendirikan Candi Kalasan.
Sejak saat itu Kerajaan Medang
dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra
yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan
Sanjaya, pada tahun 840–an. Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan
demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.
b.
Dinasti Syailendra
Selama ini kerajaan Medang dianggap
diperintah oleh dua wangsa yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Buddha dan
Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Siwa, pendapat ini pertama kali
diperkenalkan oleh Bosch. ada awal era Medang atau Mataram Kuno, wangsa
Sailendra cukup dominan di Jawa Tengah. Menurut para ahli sejarah, wangsa
Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh kekuasaan wangsa Sailendra. Mengenai
persaingan kekuasaan tersebut tidak diketahui secara pasti, akan tetapi
kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa Tengah. Sementara Poerbatjaraka menolak
anggapan Bosch mengenai adanya dua wangsa kembar berbeda agama yang saling
bersaing ini. Menurutnya hanya ada satu wangsa dan satu kerajaan, yaitu wangsa
Sailendra dan Kerajaan Medang. Sanjaya dan keturunannya adalah anggota
Sailendra juga. Ditambah menurut Boechari, melalui penafsirannya atas Prasasti
Sojomerto bahwa wangsa Sailendra pada mulanya memuja Siwa, sebelum Panangkaran
beralih keyakinan menjadi penganut Buddha Mahayana.
Raja-raja yang berkuasa dari
keluarga Sailendra tertera dalam prasasti Ligor, prasasti Nalanda maupun
prasasti Klurak, sedangkan raja-raja dari keluarga Sanjaya tertera dalam
prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih. Berdasarkan candi-candi, peninggalan
kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-8 dan ke-9 yang bercorak Budha (Sailendra)
umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan yang bercorak Hindu
(Sanjaya) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian utara. Berdasarkan penafsiran
atas prasasti Canggal (732 M) Sanjaya memang mendirikan Shivalingga baru (Candi
Gunung Wukir), artinya ia membangun dasar pusat pemerintahan baru. Hal ini
karena raja Jawa pendahulunya, Raja Sanna wafat dan kerajaannya tercerai-berai
diserang musuh. Saudari Sanna adalah Sannaha, ibunda Sanjaya, artinya Sanjaya
masih kemenakan Sanna. Sanjaya mempersatukan bekas kerajaan Sanna, memindahkan
ibu kota dan naik takhta membangun kraton baru di Mdang i Bhumi Mataram. Hal
ini sesuai dengan adat dan kepercayaan Jawa bahwa kraton yang sudah pernah
pralaya, diserang, kalah dan diduduki musuh, sudah buruk peruntungannya
sehingga harus pindah mencari tempat lain untuk membangun kraton baru.
Hal ini serupa dengan zaman
kemudian pada masa Mataram Islam yang meninggalkan Kartasura yang sudah pernah
diduduki musuh dan berpindah ke Surakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini
bukan berarti berakhirnya wangsa yang berkuasa. Hal ini sama dengan Airlangga
pada zaman kemudian yang membangun kerajaan baru, tetapi ia masih merupakan
keturunan wangsa penguasa terdahulu, kelanjutan Dharmawangsa yang juga anggota
wangsa Isyana. Maka disimpulkan meski Sanjaya memindahkan ibu kota ke Mataram,
ia tetap merupakan kelanjutan dari wangsa Sailendra yang menurut prasasti Sojomerto
didirikan oleh Dapunta Selendra. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812),
puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri Dharmasetu,
Maharaja Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan
memberikan penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara
sebagai Bodhisattva wanita.
Pada tahun 790, Sailendra menyerang
dan mengalahkan Chenla (Kamboja Selatan), kemudian sempat berkuasa di sana
selama beberapa tahun. Candi Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan
raja Samaratungga (812-833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di
dunia, dan kini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Dari hasil
pernikahannya dengan Dewi Tara, Samaratungga memiliki putri bernama
Pramodhawardhani dan putra bernama Balaputradewa. Balaputra kemudian memerintah
di Sriwijaya, maka selain pernah berkuasa di Medang, wangsa Sailendra juga
berkuasa di Sriwijaya.
2.3. Kehidupan
Rakyat Mataram Kuno
Rakyat Mataram menggantungkan
kehidupannya pada hasil pertanian. Hal ini mengakibatkan banyak
kerajaan-kerajaan serta daerah lain yang saling mengekspor dan mengimpor hasil
pertaniannya.Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil pertanian telah
dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Yang diperdagagkan
pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-buahan, sirih pinang, dan buah
mengkudu.Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan
tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan barang-barang anyaman, gula, arang, dan
kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam
serta telurnya juga di perjual belikan.
Usaha perdagangan juga mulai
mendapat perhatian ketika Raja Balitung berkuasa.Raja telah memerintahkan untuk
membuat pusat-pusat perdagangan serta penduduk disekitar kanan-kiri aliran
Sungai Bengawan Solo diperintahkan untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas
perdagangan melalui aliran sungai tersebut.Sebagai imbalannya, penduduk desa di
kanan-kiri sungai tersebut dibebaskan dari pungutan pajak.Lancarya pengangkutan
perdagangan melalui sungai tersebut dengan sendirinya akan menigkatkan
perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.
2.4. Penyebab
runtuhnya Kerjaan Mataram Kuno
Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor.
1 1. Pertama,
disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar
tersebut menimbun candi-candi yang didirikan oleh kerajaan, sehingga
candi-candi tersebut menjadi rusak.
2 2. Kedua, runtuhnya kerajaan
Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M.
3 3. Ketiga, runtuhnya
kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di
Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak
terdapatnya pelabuhan strategis.Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai
selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan
daerah sumber penghasil komoditi perdagangan.
Mpu Sindok mempunyai jabatan
sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi raja di Mataram, lalu pindah ke Jawa
timur dan mendirikan dinasti Isyana di sana dan menjadikan Walunggaluh sebagai
pusat kerajaan. Mpu Sindok yang membentuk dinasti baru, yaitu Isanawangsa
berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai kelanjutan dari kerajaan sebelumnya
yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai
dengan 948 M.Sumber sejarah yang berkenaan dengan Kerajaan Mataram di Jawa
Timur antara lain prasasti Pucangan, prasasti Anjukladang dan Pradah, prasasti
Limus, prasasti Sirahketing, prasasti Wurara, prasasti Semangaka, prasasti
Silet, prasasti Turun Hyang, dan prasasti Gandhakuti yang berisi penyerahan
kedudukan putra mahkota oleh Airlangga kepada sepupunya yaitu Samarawijaya
putra Teguh Dharmawangsa.
2.5. Peninggalan
– peninggalan Kerajaan Mataram Kuno
A. Prasasti
1) Prasasti
Canggal ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal berangka tahun
732 M dalam bentuk Candrasangkala.
2) Prasasti
Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778 M, ditulis
dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta
3) Prasasti
Mantyasih ditemukan di Mantyasih Kedu, Jateng berangka tahun 907 M yang
menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar silsilah
raja-raja Mataram yang mendahului Bality yaitu Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran,
Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi,
Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Untuk itu prasasti
Mantyasih/Kedu ini juga disebut dengan prasasti Belitung
4) Prasasti
Klurak ditemukan di desa Prambanan berangka tahun 782 M ditulis dalam huruf
Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan pembuatan arca Manjusri
oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.
B. Candi
1) Candi
Gatotkaca
Candi Gatotkaca adalah salah satu candi Hindu yang berada di Dataran
Tinggi Dieng, di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Candi
ini terletak di sebelah barat Kompleks Percandian Arjuna, di tepi jalan ke arah
Candi Bima, di seberang Museum Dieng Kailasa. Nama Gatotkaca sendiri diberikan
oleh penduduk dengan mengambil nama tokoh wayang dari cerita Mahabarata.
2) Candi
Bima
Berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah, [1] candi ini terletak paling selatan di kompleks Percandian Dieng.
Pintu masuk berada di sisi timur. Candi ini cukup unik dibanding dengan
candi-candi lain, baik di Dieng maupun di Indonesia pada umumnya, karena
kemiripan arsitekturnya dengan beberapa candi di India. Bagian atapnya mirip
dengan shikara dan berbentuk seperti mangkuk yang ditangkupkan. [2] Pada bagian
atap terdapat relung dengan relief kepala yang disebut dengan kudu.
3) Candi
Dwarawati
Bentuk Candi Dwarawati mirip dengan Candi Gatutkaca, yaitu berdenah dasar
segi empat dengan penampil di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri di atas
batur setinggi sekitar 50 cm. Tangga dan pintu masuk, yang terletak di sisi
barat, saat ini dalam keadaan polos tanpa pahatan.
4) Candi
Arjuna
Candi ini mirip dengan candi-candi di komples Gedong Sanga. Berdenah
dasar persegi dengan luas sekitar ukuran sekitar 4 m2. Tubuh candi berdiri
diatas batur setinggi sekitar 1 m. Di sisi barat terdapat tangga menuju pintu
masuk ke ruangan kecil dalam tubuh candi. Pintu candi dilengkapi dengan semacam
bilik penampil yang menjorok keluar sekitar 1 m dari tubuh candi. Di atas
ambang pintu dihiasi dengan pahatan Kalamakara.
5) Candi
Semar
Candi ini letaknya berhadapan dengan Candi Arjuna. Denah dasarnya
berbentuk persegi empat membujur arah utara-selatan. Batur candi setinggi
sekitar 50 cm, polos tanpa hiasan. Tangga menuju pintu masuk ke ruang dalam
tubuh candi terdapat di sisi timur. Pintu masuk tidak dilengkapi bilik
penampil. Ambang pintu diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan kepala
naga di pangkalnya. Di atas ambang pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang
bawah.
6) Candi
Puntadewa
Ukuran Candi Puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih
tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 m.
Tangga menuju pintu masuk ke dalam ruang dalam tubuh candi dilengkapi pipi
candi dan dibuat bersusun dua, sesuai dengan batur candi. Atap candi mirip
dengan atap Candi Sembadra, yaitu berbentuk kubus besar. Puncak atap juga sudah
hancur, sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga
terdapat relung kecil seperti tempat menaruh arca. Pintu dilengkapi dengan
bilik penampil dan diberi bingkai yang berhiaskan motif kertas tempel.
7) Candi
Sembrada
Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk bujur
sangkar. Di pertengahan sisi selatan, timur dan utara terdapat bagian yang
menjorok keluar, membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk terletak
di sisi barat dan, dilengkapi dengan bilik penampil. Adanya bilik penampil di
sisi barat dan relung di ketiga sisi lainnya membuat bentuk tubuh candi tampak
seperti poligon. Di halaman terdapat batu yang ditata sebagai jalan setapak
menuju pintu.
8) Candi
Srikandi
Candi ini terletak di utara Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50
cm dengan denah dasar berbentuk kubus. Di sisi timur terdapat tangga dengan
bilik penampil. Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu,
pada dinding timur menggambarkan Syiwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma.
Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak. Atap candi sudah rusak sehingga
tidak terlihat lagi bentuk aslinya.
9) Candi
Gedong Songo
Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan
budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks
candi ini terdapat sembilan buah candi. Candi ini diketemukan oleh Raffles pada
tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra
abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks
Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di
atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara
19-27 °C)
10) Candi Sari
Candi Sari adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi
Sari, Candi Kalasan dan Candi Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut
dari kota Yogyakarta, dan tidak begitu jauh dari Bandara Adisucipto. Candi ini
dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno
dengan bentuk yang sangat indah. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah
stupa seperti yang nampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3
deretan sejajar.
Bentuk bangunan candi serta ukiran relief yang ada pada dinding candi
sangat mirip dengan relief di Candi Plaosan. Beberapa ruangan bertingkat dua
berada persis di bawah masing-masing stupa, dan diperkirakan dipakai untuk
tempat meditasi bagi para pendeta Buddha (bhiksu) pada zaman dahulunya. Candi
Sari pada masa lampau merupakan suatu Vihara Buddha, dan dipakai sebagai tempat
belajar dan berguru bagi para bhiksu.
11) Candi Mendut
Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak di
Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengahini, letaknya
berada sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur.Candi Mendut didirikan semasa
pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah
yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan
suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli
arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi
Mendut.
12) Candi Sewu
Secara administratif, kompleks Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa
Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Candi
Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya
delapan ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan
kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Candi Sewu berusia lebih tua daripada Candi Prambanan. Meskipun aslinya
terdapat 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan
"Sewu" yang berarti seribudalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan
kisah legenda Loro Jonggrang.
13) Candi Pawon
Letak Candi Pawon ini berada di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur,
tepat berjarak 1750 meter dari Candi Borobudur ke arah timur dan 1150 m dari
Candi Mendut ke arah barat. Nama Candi Pawon tidak dapat diketahui secara pasti
asal-usulnya. Ahli epigrafi J.G. de Casparis menafsirkan bahwa Pawon berasal
daribahasa Jawa awu yang berarti 'abu', mendapat awalan pa- dan akhiran -an
yang menunjukkan suatu tempat. Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti
'dapur', akan tetapi de Casparis mengartikannya sebagai 'perabuan' atau tempat
abu. Penduduk setempat juga menyebutkan Candi Pawon dengan nama Bajranalan.
Kata ini mungkin berasal dari kata bahasa Sanskerta vajra =yang berarti
'halilintar' dan anala yang berarti 'api'.
14) Candi Borobudur
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di
sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di
sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentukstupa ini didirikan oleh para
penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk
bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya
dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1]
Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini,
dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya
terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan
mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Secara umum kerajaan
Mataram Kuno pernah di pimpin oleh 3 dinasti yang pernah berkuasa pada waktu
itu, yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan Wangsa Isyana.Istilah Isyana
berasal dari nama Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, yaitu gelar Mpu Sindok setelah
menjadi raja Medang (929–947). Silsilah Wangsa Isyana dijumpai dalam prasasti
Pucangan tahun 1041 atas nama Airlangga, seorang raja yang mengaku keturunan
Mpu Sindok. Dalam masa 70 tahun itu tercatat hanya tiga prasasti yang berangka
tahun yang ditentuka, yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966 M) prasasti
Kawambang Kulwan tahun 913 Saka (992 M) dan prasasti ucem tahun 934 Saka
(1012-1013 M).
Usaha untuk meningkatkan dan
mengembangkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai
Kayuwangi. Yang diperdagagkan pertama-tama hasil bumi, seperti beras,
buah-buahan, sirih pinang, dan buah mengkudu. Juga hasil industri rumah tangga,
seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan
barang-barang anyaman, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti
kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam serta telurnya juga di perjualbelikan.
3.2 Saran
Semoga makalah tersebut dapat
bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca.Selain itu kita bisa
mengetahui lebih dalam tentang kerajaan-kerajaan hindu-budha di Indonesia
khususnya Kerajaan Kalingga.Kita sebagai penerus harus bisa melestarikannya
serta menjaga peninggalan-peninggalannya.
Terimakasih sudah berkunjung ke Blog kami ✌✌
Kritik dan saran sangat bermanfaat !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar